34 Tari Tradisional Bali Lengkap dengan Gambarnya

Tari Tradisional Bali Lengkap dengan Gambarnya – Pulau Dewata Bali memang memiliki panorama yang indah serta sudah diakui dunia. Banyak wisatawan baik itu dari mancanegara dan lokal mengidentikan Bali sebagai surganya dunia. Tapi tidak hanya dari keindahan alamnya saja karena ada segudang kekayaan budaya yang ada di Bali juga tidak luput dari perhatian dunia, diantaranya adalah tarian tradisionalnya.

Nah pada kesempatan kali ini kami akan mengulas tentang tarian tradisional Bali. Di Bali banyak sekali tari tarian tradisional baik itu yang modern maupun klasik. Dan pada artikel kali ini kita akan merangkum 30 tarian tradisional klasik tersebut. Jangan sampai orang luar negeri tahu tarian Bali, namun kita Bangsa Indonesia malah tidak mau mengenalnya. Berikut ulasannya:

close

34 Tarian Tradisional dari Bali

1# Tari Cendrawasih

Nah seperti halnya tarian burung merak yang ada di Jawa Barat, tari Cendrawasih Bali juga menggambarkan keindahan dari burung Cendrawasih yang sedang bertebangan di angkasa. Tari Cendrawasih ini ditarikan oleh 2 orang wanita dewasa. Satu penari memerankan burung Cendrawasih jantan dan satunya lagi memerankan burung cendrawasih betina.

Di Bali Burung Cendrawasih ini dikenal sebagai Manuk Dewata dimana burung ini memang memiliki karakter yang meliuk-liuk seperti sedang menari dan juga menyanyi ketika menjelang musim perkawinan. Jadi, hal ini digambarkan dalam tarian tradisional yang ada Bali ini. Tari burung Cendrawasih adalah hasil karya seorang seniman Bali yang bernama I Gde Manik dan tarian ini pertama kali ditampilkan di subdistrik Sawan di Kabupaten Buleleng pada tahun 1920an. Namun untuk tari Cendrawasih yang sering dipertunjukan pada jaman sekarang ini adalah hasil olahan koreografi oleh N. L. N. Swasthi Wijaya Bandem, yang diaransemenkan pada penampilan pertamanya pada tahun 1988.

2# Tari Trunajaya

Tari Tradisional yang selanjutnya yiatu Tari Trunajaya. Tari ini adalah salah satu jenis tari tradisional yang ada di Bali yang menggambarkan sebuah gerakan seorang pemuda (Taruna) Bali yang sedang menginjak usia dewasa, yang penuh emosi serta suka berulah untuk memikat hati seorang wanita. Tari Trunajaya ini termasuk tari putra dengan gerakan yang sangat keras, biasanya ditarikan oleh seorang penari putri. Tari ini semula ciptaan oleh Pan Wandres dalam bentuk kebyar Legong dan kemudian disempurnakan lagi oleh I Gde Manik. Kreasi tarian Trunajaya ini diciptakan untuk sebuah tari sebagai media hiburan yang bisa dinikmati saat-saat perayaan tertentu.

3# Tari Barong

Tari Barong adalah salah satu jenis tarian tradisional yang berasal dari Bali yang cukup terkenal. Tari Barong ini merupakan salah satu warisan kebudayaan sebelum munculnya agama Hindu di tanah dewata. Tarian Tradisional Bali ini ditarikan oleh 2 orang laki-laki, satu bagian kepala dan satunya lagi dibagian ekor, sehingga kelihatanya seperti binatang yang berkaki empat.

Adapun untuk kata barong ini berasal dari kata bahruang yang artinya adalah beruang, tak heran kalau penampilan badannya itu besar seperti binatang beruang. Di Bali ada bermacam-macam jenis barong seperti barong macan, barong gajah, barong bangkal, barong asu, barong landung, barong blasblasan, barong ket (keket). Tari Barong yang sering ditampilkan pada jaman saat ini adalah barong ket, jenis tari barong yang satu ini memiliki kostum dan gerak tari yang cukup lengkap, bentuknya merupakan suatu perpaduan antara binatang singa, macan, sapi atau boma. Badan – Barong ini dihiasi dengan ukiran-ukiran dibuat dari kulit, dengan potongan kaca cermin yang sangat berkilauan dan bulunya itu dibuat dari serat daun perasok , ijuk atau ada pula dari bahan bulu burung gagak, topeng muka dari barong dibuat dari kayu dengan sumber tempat yang sangat angker dan keramat.

Tari Barong dipentaskan dengan menggambarkan pertarungan yang sengit antara kebajikan yang disimbolkan dengan barong dan kebatilan yaitu rangda, dan dipentaskan dengan penuh sajian humor.

4# Tari Legong

Tari Legong adalah merupakan tari klasik Bali yang pada awal mulanya merupakan tarian kraton yang hanya dipertunjukan di lingkungan keraton pada masa kerajaan Bali. Dari asal katanya legong berasal dari kata “leg” yang artinya luwes dan elastis, dihubungkan dengan tarian berarti gerakan yang lemah gemulai, kemudian “gong” yang artinya gamelan, sehingga legong berarti tarian yang terikat dengan gamelan yang mengiringinya. Gamelan yang mengiringinya di kenal dengan nama Semar Pegulingan. Ciri khas lainnya penarinya memakai kipas, kecuali penari dengan tokoh Condong.

Tari Legong ditarikan oleh 2-3 orang penari yang menghadirkan tokoh “Condong”, sebagai pembuka tarian ini, tapi adakalanya tari legong ini tidak menghadirkan tokoh tersebut, tergantung jumlah penarinya.

Dikenal beberapa macam tari Legong di Bali yang berkembang seiring waktu Legong Lasem (Kraton), Legong Jobog, Legong Legod Bawa, Legong Kuntul, Legong Smaradahana dan Legong Sudarsana.

5# Tari Kecak

Siapa sih yang belum pernah melihat tari Kecak? walaupun mungkin belum pernah melihat tarian ini secara utuh, tapi pasti pernah tahu dong cuplikan tari kecak yang kerap muncul di iklan/media televisi?.

Tari Kecak adalah pertunjukan tarian seni khas Bali yang lebih utama menceritakan mengenai Ramayana dan dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dipertunjukkan oleh banyak (puluhan atau lebih) penari laki-laki yang duduk berbaris melingkar dan dengan irama tertentu menyerukan “cak” dan mengangkat kedua lengan, menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana.

Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka. Selain para penari itu, ada pula para penari lain yang memerankan tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.

Tari Kecak adalah hasil karya Wayan Limbak bekerja sama dengan pelukis Jerman Walter Spies pada tahun 1930an.

6# Tari Pendet

Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia.
Namun seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Tari Pendet menjadi “ucapan selamat datang”. Pencipta/koreografer bentuk modern tari ini adalah I Wayan Rindi.
Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang, pemangkus pria dan wanita, dewasa maupun gadis.

7# Tari Baris

Tari Baris merupakan tarian ritual tradisional Bali. Tarian yang menunjukkan keberanian para ksatria Bali dan merepresentasikan para pejuang yang bertempur bagi raja Bali. Tarian ini biasanya dilakukan oleh 8 sampai 40 pria yang mengenakan pakaian tradisional para pejuang lengkap dengan ornamen pada kepala, dada dan punggung. Kostum yang dipergunakan berbeda di setiap kabupaten karena semua kabupaten di Bali memiliki Tari Baris Khas masing-masing.

Mula-mula gerakan penari Baris sangat hati-hati, seperti seseorang yang mencari musuhnya di daerah yang belum ia kenal. Saat ia sampai di tengah panggung, ia mulai berjinjit, dan dengan cepat berputar diatas satu kaki dan wajahnya menunjukkan wajah seorang pejuang yang tengah berada di medan perang.

Tari baris adalah tarian keramat yang dipertunjukan tidak hanya untuk upacara kremasi tapi juga saat upacara peringatan Pura dan upacara suci lainya karena dipercaya saat upacara tersebut para dewa dewi dan leluhur turun ke dunia untuk memberi berkat. Jadi tarian ini dipersembahkan untuk mereka sebagai pertunjukan dan juga rasa syukur.

8# Tari Panji Semirang

Tari Panji Semirang merupakan sebuah tarian yang diciptakan oleh I Nyoman Kaler pada tahun 1942. Tarian ini menceritakan tentang seorang putri raja bernama Galuh Candrakirana yang pergi mengembara dengan menyamar menjadi laki-laki bernama Raden Panji. Pengembaraan ini dilakukan setelah putri tersebut kehilangan suaminya. Namun, dalam Babad Bali tarian ini menggambarkan putri bernama Galuh Candrakirana yang melakukan pengembaraan untuk mencari kekasihnya yang bernama Raden Panji Inu Kertapati, dengan menyamar sebagai laki-laki. Tarian ini ditarikan oleh perempuan dengan penampilan seperti laki-laki, dan tentu saja tidak memiliki gerakan perempuan sama sekali dalam tarian ini

9# Tari Puspanjali

Tari Puspanjali merupakan sebuah tarian penyambutan yang ditarikan oleh sekelompok penari putri dengan jumlah penari antara 5-7 orang. Tari Puspanjalai menampilkan gerak-gerak lembut lemah gemulai yang dipadukan dengan gerak-gerak ritmis yang dinamis, tarian ini banyak mengambil inspirasi dari tarian-tarian upacara Rejang, dan menggambarkan sejumlah wanita yang dengan penuh rasa hormat menyongsong kedatangan para tamu yang datang ke pulau mereka.

Puspanjali diambil dari kata puspa yang berarti bunga dan anjali yang berarti menghormat / penghormatan. Tari ini diciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya (penata tari) dan I Nyoman Windha (penata tabuh pengiring) pada tahun 1989.

10# Tari Margapati

Tari Margapati merupakan tari tradisional Bali yang diciptakan oleh Nyoman Kaler pada tahun 1942. Kata Margapati berasal dari kata Marga yang berarti Jalan dan Pati yang berarti kematian. Tarian Margapati ini menggambarkan kesalahan perjalanan kehidupan bagi seseorang perempuan, karena tarian ini lebih banyak gerakan seorang laki-laki tapi ditarikan oleh wanita.

Tari Margapati memang ditarikan oleh seorang wanita. Tarian ini banyak ditampilkan pada acara-acara selamatan seperti acara ulang tahun perusahaan.

11# Tari Wirayudha

Tari Wirayudha merupakan tari perang yang ditarikan oleh antara 2 sampai 4 pasang penari pria bersenjatakan tombak. Tari ini menggambarkan sekelompok prajurit Bali Dwipa yang sedang bersiap-siap untuk maju ke medan perang. Para penari mengenakan hiasan kepala berbentuk udeng-udengan, tarian yang merupakan produksi Sanggar Tari Bali Waturenggong ini adalah ciptaan I Wayan Dibia pada tahun 1979.

12# Tari Gopala

Tari Gopala merupakan tari tradisi Bali yang menggambarkan tingkah laku sekelompok penggamba sapi di suatu ladang / tempat penggembalaan. Gopala diambil dari kata kawi yang berarti penggembala sapi.

Tari Gopala ini ditarikan oleh 4 sampai 8 orang penari putra. Tarian ini adalah ciptaan bersama antara I Nyoman Suarsa (penata tari) dan I Ketut Gede Asnawa (sebagai penata iringan) dengan gerakan tari yang humoris dengan materi gerak yang merupakan perpaduan antara gerak-gerik tari Bali yang sudah ada yang telah dikembangkan dengan gerak-gerak baru.

13# Tari Topeng

Topeng telah ada di dunia sejak jaman prasejarah. Aksesoris yang digunakan dimuka ini dipergunakan pula pada sebuah tarian yang dikenal dengan nama tari topeng. Topeng yang digunakan bisa menggambarkan banyak karakter, baik karakter orang pada masa kini maupun tokoh – tokoh fiktif atau orang jaman dahulu. Indonesia memiliki beberapa tari topeng, antara lain topeng cirebon dari Jawa Barat, Topeng Malang, Topeng Reog, Topeng Ireng dan Topeng Bali.

Keberadaan topeng dalam masyarakat Bali berkaitan erat dengan upacara keagamaan Hindu, karena kesenian luluh dalam agama dan masyarakat. Tari Topeng Bali adalah sebuah tradisi yang kental dengan nuansa ritual magis, umumnya yang ditampilkan di tengah masyarakat adalah seni yang disakralkan. Tuah dari topeng yang merepresentasikan dewa-dewa dipercaya mampu menganugrahkan ketenteraman dan keselamatan.

14# Tari Condong

Tari condong adalah tari tradisional yang berasal dari istana di Bali pada pertengahan abad ke-19. Penciptanya tidak diketahui, akan tetapi kepercayaan masyarakat yang berkembang mengacu bahwa ada pangeran dari Sukawati sakit parah mendapat penglihatan dua gadis cantik menari dengan anggun ditemani musik gamelan. Setelah pengeran tersebut sehat kembali, pangeran ini mereka ulang tarian yang dia pernah lihat. Tarian ini awalnya menceritakan kisah dua bidadari bernama Supraba dan Wilotama. Semenjak dekade 1930-an, cerita diubah menjadi seorang raja atau ratu.

Tari Condong umumnya digunakan sebagai pendahuluan dari tari legong, tarian ini dibawakan dengan diiringi oleh gamelan pangulingan.

15# Tari Janger

Tari Janger adalah tari pergaulan anak remaja Bali, yang diciptakan pada tahun 1930 an. Ditarikan oleh 10 hingga 16 orang penari secara berpasangan, yaitu kelompok putri yang dinamakan janger dan kelompok putra yang dinamakan kecak. Mereka menari sambil menyanyikan Lagu Janger secara bersahut-sahutan.

Awal mula munculnya tari janger ini berawal dari nyanyian bersaut-sautan dari orang-orang yang memetik kopi,dimana untuk menghapuskan kelelahannya meraka menyanyi bersaut-sautan antara kelompok perempuan dari bentuk yang sangat sederhana ini kemudian berkembang dan menjadilah Tari janger. Lirik lagunya diadaptasikan dari nyanyian Sanghyang, sebuah tarian ritual. Jika dikategorikan dalam Tari Bali, Janger termasuk Tari Balih-balihan, tarian yang memeriahkan upacara maupun untuk hiburan.

16# Tari Kebyar Duduk Bali

Tari kebyar duduk diciptakan oleh seorang maestro seni asal kabupaten Tabanan pada tahun 1925 bernama I Ketut Mario. Tari kebyar duduk juga biasa disebut dengan tari Kebyar Terompong (jika dimainkan memakai instrument Terompong). Tari ini dinamakan Kebyar Duduk karena sebagian besar gerak-gerakan tarinya dilakukan dalam posisi duduk dengan kedua kaki menyilang (bersila). Bagian dari gerak tari yang dilakukan dengan posisi sulit, yaitu setengah jongkok, dan terlihat unik ketika penari dapat bergerak melangkah atau berpindah tempat dengan cepat.

Sama seperti tarian Baris, tari Kebyar Duduk merupakan tarian tunggal. Jika tari Baris mengilustrasikan gerakan-gerakan ksatria (prajurit) Bali pada umumnya. Dalam tarian Kebyar penekannya adalah pada penari itu sendiri yang menginsterpretasikan nuansa musik dengan ekpresi wajah dan gerakan. Penciptaan tarian ini terdiri atas empat bagian, yaitu papeson, kebyar, pangandeng, dan pangecet. Tari Kebyar Duduk menggambarkan seorang pemuda yang menari dengan lincah mengikuti irama gamelan.

17# Tari Puspanjali

Tari Puspanjali merupakan tari penyambutan untuk para tamu kehormatan. Tari ini dipentaskan oleh penari putri dengan jumlah penari antara 5-7 orang dengan membawa bokoran (piring tradisional) yang berisi aneka kuntum bunga harum. Tari Puspanjalai menampilkan gerak-gerak lembut lemah gemulai yang dipadukan dengan gerak-gerak ritmis yang dinamis.

Puspanjali berasal dari kata puspa (bunga) dan anjali (sambutan penghormatan). Tarian ini banyak mengambil inspirasi dari gerakan tarian Rejang, dan menggambarkan sejumlah gadis yang dengan penuh rasa hormat menyongsong kedatangan para tamu yang datang ke pulau mereka. Tari ini diciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya (penata tari) dan I Nyoman Windha (penata tabuh pengiring) pada tahun 1989.

18# Tari Baris

Tari Baris merupakan tari perang yang menggambarkan keperkasaan prajurit atau ksatria. Tari Baris biasanya dipentaskan oleh 8 sampai 40 pria yang memakai pakaian tradisional para pejuang lengkap dengan ornamen pada kepala, badog, lamak, awir, baju beludru, celana panjang.

Tari Baris merupakan tari sakral yang biasanya dipertunjukkan pada moment-moment khusus di area pura. Dalam peragaan tarinya, tari Baris diawali oleh gerakan yang hati-hati layaknya seorang prajurit yang sedang mencari musuhnya di daerah yang belum dikenal. Ketika sampai di tengah panggung, para penari mulai berjinjit, bergerak lebih cepat dan dengan gesit berputar di atas satu kaki. Masyarakat setempat percaya bahwa pementasan tari Baris di perayaan tertentu memiliki kekuatan magis para dewa dewi dan leluhur turun ke dunia untuk memberi berkat. Jadi tarian ini dipersembahkan untuk mereka sebagai pertunjukan dan juga rasa syukur.

19# Tari Tenun Bali

Tari tenun diciptakan oleh I Nyoman Ridet dan I Wayan Likes pada tahun 1962. Tari tenun juga berfungsi untuk melestarikan kebudayaan tenun-menenun yang ada di Bali dan juga melestarikan alat-alat tradisional yang dipergunakan dalam menenun. Kisah penggambaran tari tenun dimulai dari proses memintal benang sampai pada menenun dengan perasaan senang dan gembira. Tarian ini pada umumnya dibawakan oleh tiga orang penari atau lebih.

Busana Tari Tenun terdiri dari: kepala memakai lelunakan; pakaiannya terdiri dari tapih, kamen, dan selendang yang di lilitkan di dada serta sabuk prada; tata rias hampir sama dengan tarian lain; bunga sandat 3 buah di kenakan di kepala.

20# Tari Gambuh Bali

Tari Gambuh adalah sebuah drama tari warisan budaya Bali, yang memperoleh pengaruh dan drama tari zaman Jawa-Hindu di Jawa Timur, yang dikenal dengan nama Rakêt Lalaokaran. Rakêt Lalaokaran yang juga disebut Gambuh Ariar adalah pertunjukan berlakon yang merupakan perpaduan antara Rakêt dengan Gambuh. Gambuh abad XVI ini adalah tarian perang yang merupakan kelanjutan dan Bhata Mapdtra Yuddha, yaitu tarian perang untuk menghibur rakyat Majapahit yang melaksana upacara Shreiddha.

Drama tari klasik yang lahir di Puri pada masa lampau, masih dilestarikan diberbagai daerah di Bali, yang dulunya merupakan wilayah kekuasaan kerajaan. Rakêt telah mengalami perjalanan sejarah yang panjang, dan baru disebutkan lagi dalam Kidung Warjban Wideya dari abad XVI. Kemudian tari ini berkembang dan lestari di Bali serta memberi pengaruh kesenian masyarakat Bali. Salah satu drama tari yang mendapat pengaruh dari Gambuh adalah drama tari opera arja. Arja adalah dramatari opera yang menggunakan tembang dan dialog sebagai media ungkap lakon yang ditampilkan.

21# Tari Telek Bali

Tari Telek sampai saat ini masih sering dipentaskan secara teratur oleh sejumlah banjar atau desa adat di Bumi Serombotan, Klungkung. Jenis tari wali ini merupakan warisan leluhur yang pantang untuk tidak dipentaskan. Keyakinan ini begitu mengkristal dihati krama Banjar adat Pancoran. Gelgel dan juga Desa Adat Jumpai, Mereka melestarikan kesenian ini dari tahun ke tahun. dari generasi ke generasi sampai tidak tergerus arus zaman. Begitu kuatnya mereka menjaga kesenian ini. sampai-sampai seluruh pakem pada pementasan Tari Telek dipertahankan secara saklek.

Warga setempat meyakini bahwa pementasan Telek ini sebagai sarana untuk meminang keselamatan dunia, khususnya di wilayah banjar atau desa adat mereka. Jika nekat tidak mementaskan tarian ini. Sama artinya dengan mengundang kehadiran sasab (penyakit pada manusia), merana (hama-penyakit pada tanaman dan ternak). Dan marabahaya lainnya yang mengacaukan harmonisasi di dunia.

22# Tari Wiranata

Tari Wranata ini mengambarkan kesan gagah dari seorang penad serta cocok sekali dalam melukiskan seseorang yang punya pengaruh dan wibawa seperti seorang raja. Dalam pertunjukannya, Tari Wranata pada umumnya akan ditarikan oleh remaja putri. Namun memungkinkan juga ditarikan oleh penari putra, baik itu dalam pementasan berkelompok (massal) maupun seorang diri (tunggal). Tarian ini merupakan tari kreasi yang diciptakan oleh Inyoman Ridet pada tahun 1960.

23# Tari Panyembrama

Tari Panyembrama adalah jenis tari penyambutan, tari ini juga sering dipentaskan dalam upacara agama hindu di pura sebagai tari pelengkap persembahan sebelum tari Sanghyang atau Rejang. Gamelan yang digunakan dalam tarian ini adalah gong kebyar dan dalam pentas menggunakan pakaian adat Bali. Tari Panyembrama dipentaskan oleh sejumlah penari perempuan yang dirancang sedemikian rupa, sehingga lirik mata, senyum, dan gerak gemulai tubuhnya terlihat anggun mempesona. Tarian ini diciptakan oleh I Wayan Berata pada tahun 1970 an.

24# Tari Sanghyang Bali

Salah satu tari sakral umat Hindu di pulau Bali adalah tari Sanghyang. Tari yang merupakan sisa-sisa kebudayaan pra-Hindu ini biasanya ditarikan oleh dua gadis yang masih kecil (belum dewasa) dan dianggap masih suci. Sebelum dapat menarikan sanghyang calon penarinya harus menjalankan beberapa pantangan, seperti: tidak boleh lewat di bawah jemuran pakaian, tidak boleh berkata jorok dan kasar, tidak boleh berbohong, dan tidak boleh mencuri.

Tarian ini sendiri sering dipentaskan untuk fungsi sebagai pelengkap upacara atau juga sebagai media untuk mengusir wabah penyakit yang sedang melanda suatu desa atau daerah. Selain untuk mengusir wabah penyakit, tarian ini juga digunakan sebagai sarana pelindung terhadap ancaman dari kekuatan magi hitam (black magic). Tari Sanghyang ada beberapa jenis, diantaranya Sanghyang Dedari, Sanghyang Deling, Sanghyang Penyalin, Sanghyang Celeng.

25# Tari Kupu-Kupu Bali

Menurut catatan sejarah tarian Bali, tari kupu-kupu ini diciptakan oleh I Wayan Beratha ditahun 1960-an. Tarian kupu-kupu merupakan jenis tarian grup putri yang dimainkan oleh 5 (lima) orang perempuan atau lebih.

Tarian ini menggambarkan binatang kupu-kupu berwama biru tua atau tarum yang sedang terbang serta hinggap dari satu bunga ke bunga lainnya. Secara filosofis. tarian kupu-kupu ini adatah penggambaran keindahan. kedamaian. dan juga eksotoknya pulau Bafi.

26# Tari Baris Tunggal

Menurut informasi yang terdapat di Kidung Sunda, tarian ini diperkirakan sudah ada sejak pertengahan abad ke-16. Dinaskah tersebut terdapat sebuah keterangan tentang adanya tujuh jenis tari baris yang dibawakan di dalam upacara kremasi di Jawa. selain itu, terdapat juga sebuah keterangan bahwa pada awal kemunculannya tari baris Tunggal ini merupakan bagian dari ritual keagamaan pada saat itu.

27# Tari Durga Mahisasura Mardini

Tari Durga Mahisasura Mardini merupakan tari kreasi yang terinspirasi dari kisah Durga Mahisasura Mardini yang tertulis didalam lontar Siwagama. Secara umum. garapan dari tari kreasi ini tidak lepas dari latar belakang budaya Bali. sebagai wilayah tempat kisah Durga Mahisasura Mardini lahir dan berkembang. Selain itu juga dari segi estetis. tarian kreasi ini juga tidak lepas dari esensi tarian bali pada umumnya. termasuk didalam gerakan, tata rias, busana yang dikenakan, sampai musik yang mengiringinya.

28# Tari Cilinaya Bali

Tari Cilinaya ini pada awalnya diciptakan untuk dipentaskan oleh Sekaa Gong Patra Kencana Singapadu. Tarian ini diciptakan oleh I Wayan Dibia. yaitu salah satu seorang maestro tari tradisional Bali di tahun 1986. Gagasan lahimya tarian ini tetinspirasi dari ornamen cili. Cili sendiri merupakan salah satu ornamen khas didalam busana para penari Tari Cili berupa sehelai kain panjang yang pada bagian ujungnya lancip dengan motif yang berwarna -warni. Cili yang menjadi bagian busana para penari melambangkan sebuah keceriaan dan kegembiraan melaui pesan utama dan tarian ini.

29# Tari Gopala

Tarian ini adalah ciptaan bersama antara I Nyoman Suarsa (penata tari) dan I Ketut Gede Asnawa (sebagai penata iringan) dengan ekspresi gerakan tari yang humoris dengan materi gerak yang merupakan perpaduan antara gerak-gerik tari Bali yang sudah ada. Tari Gopala merupakan tari tradisi Bali yang menceritakan tingkah laku sekelompok penggembala sapi di suatu ladang / tempat penggembalaan. Kata Gopala diambil dari bahasa Kawi yang berarti penggembala sapi. Tari Gopala ini biasanya dipentaskan oleh 4 sampai 8 orang penari putra.

30# Tari Condong

Tari Condong adalah tari tradisional yang diperkkirakan tercipta pada abad ke-19 di lingkungan kraton atau istana kerajaan Bali pada, sehingga tidak dapat diketahui dengan pasti tokoh yang menciptakan tari.Tari Condong biasanya digunakan sebagai pendahuluan dari tari legong, tarian ini dibawakan dengan diiringi oleh gamelan pangulingan.

Menurut kepercayaan masyarakat, bahwa asal mula tari ini bermula dari seorang pangeran dari Sukawati yang sakit parah. Kemudian ia mendapat penglihatan gaib dua gadis cantik menari dengan anggun ditemani musik gamelan. Setelah pengeran tersebut sehat kembali, pangeran ini mereka ulang tarian yang pernah dilihatnya.

31# Tari Ciwa Nataraja

Tarian Siwa Nataraja adalah simbol dari agama, seni dan ilmu pengetahuan digabungkan menjadi satu. Tari Ciwa Nataraja merupakan tari persembahan. Dewi Ciwa Nataraja adalah manifestasi Siwa sebagai penari tertinggi alias Dewanya penari. Gerakan Ciwa merupakan pancaran tenaga prima yang kemudian menyatu sehingga terciptalah alam semesta ini. Begitu menerut kepercayaan orang Bali.

Dalam tarian Brahman yang tanpa akhir dari penciptaan, pemeliharaan dan peleburan, tersembunyi suatu pengertian yang dalam tentang alam semesta kita. Nataraja, Raja Tari, mempunyai empat tangan. Tangan kanan atas memegang drum/genderang dari mana hasil-hasil ciptaan terus keluar tiada hentinya (Tuhan adalah sumber dari segala ciptaan).

32# Tari Belibis

Tari Belibis diciptakan oleh N.L.N. Swasthi Wijaya Bandem (koreografer) dan I Nyoman Windha selaku pengiring tabuh pada tahun 1984. Tarian ini diilhami oleh cerita Angling Dharma yang merupakan seorang Raja. Dalam pengembaraannya, Angling Dharma bertemu dengan seorang putri raksasa pemakan manusia. Raksasa merasa khawatir rahasianya diketahui oleh Angling Dharma, dikutuklah Angling Dharma menjadi seekor burung Belibis yang hidup di air.

Tarian ini ditarikan oleh perempuan secara berkelompok. Gerakan tari burung Blibis tidak hanya berkaitan dengan kelenturan tubuh, tetapi juga berhubungan dengan tenaga yang digunakan. Seperti layaknya seekor burung, tari Blibis mengedapankan gerakan kepala dan leher, pandangan mata, serta gerak tangan dan kaki. Musik dan gamelann yang mengiringi tari ini berkesan lincan dan agresif. Beberapa alat musik yang digunakan antara lain: gangsa, cengceng, reong, kempul, penyahcah, suling, kendang, gong, jegogan, dan kajar.

33# Tari Manukrawa

Pada mulanya, tari manukrawa merupakan bagian dari sendratari Mahabharata Bale Gala-Gala karya tim sendratari Ramayana/Mahabharata Propinsi Bali yang ditampilkan dalam Pesta Kesenian Bali tahun 1980. Kemudian keindahan tari ini dikembangkan menjadi tari lepas untuk tujuan hiburan. Tarian Manukrawa pertama kali diciptakan pada tahun 1981 oleh I Wayan Dibia (koreografer), dan I Wayan Beratha (komposer).

Merujuk asal katanya, Manukrawa berasal dari kata Manuk yang artinya burung dan rawa artinya rawa-rawa. Tarian ini umumnya dipentaskan oleh 5 sampai 7 orang penari wanita. Tari Manukrawa merupakan tarian kreasis baru yang menggambarkan perilaku sekelompok burung (manuk) air (rawa) sebagaimana yang dikisahkan didalam cerita Wana Parwa dari Epos Mahabharata.

Gerakannya diambil dari tari klasik Bali yang dipadukan dengan gerakan tari dari Jawa dan Sunda, yang telah dimodifikasikan sesuai dengan tuntutan keindahan. Tari Manukrawa sering dipentaskan oleh anak-anak dengan gerakan yang ekspresif, yakni termasuk gerakan loncat dan jongkok yang menggambarkan kelincahan burng rawa.

34# Tari Rejang Bali

Tarian ini berfungsi sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan mereka kepada dewa atas berkenannya turun ke Bumi. Tarian ini dilakukan sebagai persembahan suci untuk menyambut kedatangan para dewa yang turun ke Bumi oleh sebab itu Tari Rejang ini merupakan tarian persembahan suci dalam menyambut kedatangan para dewa yang datang dari khayangan dan turun ke Bumi. Tari tradisional Bali yang juga populer saat kegiatan upacara keagamaan di pura adalah Tari Rejang. Gerak-gerik tari ini sangat sederhana namun progresif dan lincah. Tarian ini dipentaskan/ditarikan oleh penari-penari perempuan Bali dengan penuh rasa hidmat, penuh rasa pengabdian kepada Dewa-Dewi Hindu dan penuh penjiwaan.

Para penarinya mengenakan pakaian upacara yang meriah dengan banyak dekorasi-dekorasi, menari dengan berbaris melingkari halaman pura atau pelinggih yang kadang kala dilakukan dengan berpegang-pegangan tangan.

Tari Rejang ada beragam jenisnya sesuai dengan fungsi tertentu, diantaranya adalah: Rejang Renteng, Rejang Bengkel, Rejang Ayodpadi, Rejang Galuh, Rejang Dewa, Rejang Palak, Rejang Membingin, Rejang Makitut, Rejang Haja, dan juga Rejang Negara. Menurut beberapa sumber sejarah yang ada, Tari Rejang diperkirakan sudah ada sejak jaman pra-Hindu.

Demikian kami sampaikan mengenai macam – macam tarian adat tradisional Bali kami sampaikan kepada Anda dan semoga memberikan manfaat. Jangan ragu untuk membagikan informasi ini kepada orang – orang yang membutuhkannya.

Akhir Kata

Demikian ulasan dari 34 tari tradisional yang ada Bali. Semoga dengan adanya ulasan ini dapat menjadi referensi edukasi bagi kita semua. Terimakasih kami ucapkan sudah membaca artikel ini, sampai jumpa lagi di ulasan yang lainnya.

Nilai Kualitas Konten

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!