Mesin Bubut Negeriku

2 min read

Kisah Perjuangan Seorang Anak untuk Membangun Negeri Indonesia
Kisah Perjuangan Seorang Anak untuk Membangun Negeri Indonesia – Aku lahir di Majalengka 20 tahun yang lalu. Setelah lulus SMP, aku merantau ke Jakarta dan tinggal di pesantren Adz-Dzikra. Pesantren ini adalah tempat guru ngajiku mengajar. Beliau merupakan teman baik almarhum ayahku. Pilihan untuk pindah ke Jakarta diambil karena ibu tidak mampu menyekolahkanku ke tingkat selanjutnya. Atas izin Allah, aku memperoleh beasiswa ekonomi dari komite orang tua siswa di SMA sehingga bebas biaya dengan syarat peringkat nilai rapor semester harus selalu 5 besar kelas.
 
Sejumlah kewajiban tentunya harus aku pikul ketika mengambil pilihan ini. Beberapa contoh rutinitas yang aku harus lakukan yaitu setiap pagi dan sore membersihkan halaman masjid serta pesantren, usai pulang sekolah menjaga koperasi untuk layanan antar gas dan galon, memotong rumput halaman masjid tiga minggu sekali, mereparasi pompa air yang rusak, dan membersihkan kompresor AC sebulan sekali. Sabtu dan Minggu aku ditugaskan di bengkel bubut milik salah satu petinggi pesantren. 
 

Kisah Perjuangan Seorang Anak untuk Membangun Negeri Indonesia

Hal-hal teknis tersebut awalnya terasa sulit bagiku, namun aku banyak belajar dari para mekanik yang bekerja disana. Lewat rutinitas tersebut, aku memperoleh upah sebesar 400 ribu rupiah per bulan. Setiap bulan aku menyisihkan 20 ribu rupiah agar dapat pulang ke Majalengka saat lebaran. Untuk makan sehari-hari, aku memanfaatkan sisa porsi santri pesantren.
 
Waktu malam aku gunakan dengan sebaikbaiknya untuk belajar dan mengerjakan tugas. Hal ini tentu tidak mudah. Seringkali aku tertidur saat jam pelajaran di kelas karena kurang istirahat. Aku juga harus mengakui bahwa waktu bermain dengan temanteman sekolah sangatlah minim. Aku bersyukur karena mereka mengerti kondisiku. Akupun menyadari bahwa jalan hidup seperti ini adalah pilihanku. Sudah sewajarnya untuk siap menerima seluruh lika-liku selama perjuangan.
 
Tak terasa, aku naik ke kelas 3 SMA. Sebagian besar teman sekolahku sibuk mengikuti bimbingan belajar di berbagai tempat les. Nama-nama perguruan tinggi semakin sering dibicarakan tiap sesi belajar, istirahat, atau main. ITB, UI, UGM, dan lainnya menjadi bumbu penyedap yang gurih, bukan lagi gosip tentang siswa paling tampan atau tercantik satu angkatan. 
 
Aku hanya menyimak karena memang tidak pernah berpikir untuk kuliah. Aku sudah memutuskan untuk bekerja di pabrik komponen otomotif setelah lulus SMA. Sebab, di liburan semester 5 aku sudah mengikuti program sertifikasi di rumah mekanik HSBC-Astra dan memperoleh sertifikat. Biaya pelatihan aku peroleh dari tabungan bulanan dengan konsekuensi tidak pulang ke Majalengka saat lebaran tiba.
 
Menjelang penutupan pendaftaran SNMPTN guru BP memanggilku. Beliau membujukku untuk mendaftarkan diri di SNMPTN. Beasiswa Bidikmisi merupakan argumen pamungkas yang dilontarkan beliau. Aku masih ingat betapa seriusnya suasana ruangan BP saat itu. Beliau sangat menginginkan agar aku bercita-cita lebih tinggi lagi dibanding sekedar menjadi buruh pabrik. Menurut beliau, pada dasarnya tidak ada cita-cita yang buruk.
 
 “Kemampuan yang besar tentu diikuti oleh tanggung jawab yang besar pula, kamu jangan takut. Allah pasti memberi jalan” ujar guru BP-ku.
 
Aku tidak mengutarakan seluruh pembicaraan tersebut kepada ibu maupun guru ngajiku. Ibuku pasti tidak mengerti dan guru ngajiku sudah cukup disibukkan oleh 50 orang santri, pikirku. Hari-hari di semester terakhir terasa begitu berat. Perkataan guru BP-ku selalu terlintas dalam benak. Setelah merenunginya berhari-hari, akhirnya aku putuskan untuk mendaftar SNMPTN. Tujuannya hanya satu, agar guru BP-ku tidak kecewa. Perkara lolos atau tidak, tidak aku pikirkan. Hal terpenting adalah lulus SMA dengan nilai UN dan ijazah yang cemerlang.
 
Pilihan pertama adalah Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB. Namanya sesuai dengan perkara perbengkelan, pikirku. Pilihan kedua adalah Teknik Material dan Metalurgi UI. Lagi-lagi karena menurutku nama jurusannya bernuansa bengkel dan metalurgi merupakan istilah yang baru kudengar. Setelah memilih menu “Simpan”, aku segera menutup tab di layar browser. Halaman tersebut tidak pernah aku kunjungi lagi hingga 27 Mei 2013.
 
UN berakhir, aku langsung mendaftarkan diri di program pelatihan dan perekrutan Ford cabang Pluit, Jakarta Utara. Berbekal sertifikat dan fotokopi rapor SMA, aku diterima sebagai peserta. Selama tiga minggu aku mengikuti training bersama 80 peserta lainnya. Atas izin Allah, aku lolos tahap seleksi dan dinyatakan sebagai karyawan magang. Namun, baru menjalani status magang selama dua minggu guru BP menghubungiku. Beliau memintaku untuk mengecek akun SNMPTN. Aku benar-benar melupakan SNMPTN nampaknya, sampai lupa bahwa 27 Mei 2013 telah tiba. Tepat hari itu. 
 
“Selamat Anda dinyatakan lulus SNMPTN 2013, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung…”
 
Aku terdiam di depan layar komputer warnet. Badanku lemas seketika dan tanpa disadari air mataku menetes. Entah senang atau sedih, jelas sekali pikiranku dipenuhi kebingungan. Impianku untuk bekerja di pabrik komponen otomotif sedang diperjuangkan, namun jalan lain ternyata tengah menunggu. 
 
2,5 tahun lalu aku memutuskan untuk resign dari program magang Ford dan memilih FTMD ITB sebagai tempat membubut cita-cita. 2,5 tahun yang lalu pula cara pandangku terhadap cita-cita berubah. Mimpi bukanlah tentang diriku semata. Bidikmisi merupakan jalan untukku berbakti pada tanah ini. Itulah yang kini sedang kubangun. Membuka industri manufaktur dalam negeri di masa depan karena pada dasarnya bangsa ini mampu. Bukan tentang urusan perut, melainkan harga diri dan kedaulatan kita sebagai negara penghasil sarjana setiap tahunnya. 
 
Judul : Mesin Bubut Negeriku
Penulis : Ahmad Muliansyah 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page