Sabtu, 12 April 2014

Pileg 2014 Berakhir 'Remis', Peta Politik Berubah


Capres 2014
Pemilihan legislatif (Pileg) 2014 yang di gelar hari Rabu, 09 April 2014, berjalan dengan sukses dan aman. Namun hasil akhirnya ‘remis’. Ibarat main catur, tidak ada pemenang dalam Pileg tahun ini, walaupun hasil akhir Pileg versi enam hitung cepat atau quick count telah menempatkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) meraih suara terbanyak. Namun tidak satupun Partai yang meraih 25 persen suara sah nasional sebagai syarat untuk mengajukan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres).

Hasil hitung cepat atau quick count yang dirilis enam lembaga survey telah menempatkan tiga partai politik di papan atas yakni PDI-P dengan raihan suara rata-rata 19,02 persen, Partai Golkar dengan raihan suara rata-rata 14,72 persen dan  Partai Gerindra dengan raihan suara rata-rata 11,89 persen. 

Selanjutnya Partai yang berada di papan tengah adalah Partai Demokrat dengan raihan suara 9,78 persen, kemudian Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan raihan sekitar 9,21 persen dan Partai Amanat Nasional (PAN) dengan raihan sekitar 7,51 persen.

Kemudian di papan bawah bertengger Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan raihan rata-rata 6,75 persen, Partai Nasdem dengan 6,67 persen, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan raihan 6,62 persen dan terakhir Partai Hanura dengan raihan 5,28 persen suara.

Menurut quick count  ada dua partai yang tidal lolos ke senayan karena raihan suaranya di bawah Parlaimentary Threshold (PT) atau ambang batas parlemen 3,5 persen yakni Partai Bulan Bintang (PBB) dengan raihan suara 1,5 persen dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) yang hanya memperoleh 0,97 persen suara.

Berikut rekapitulasi hasil akhir quick count menurut enam versi lembaga survey :


No
Partai
LSI
(%)
SMRC
(%)
CSIS
(%)
 Kompas
(%)
RRI
(%)
MetroTV
(%)
Rata-rata (%)
1
Nasdem
6,41
6,57
6,7
6,7
6,74
6,91
6,67
2
PKB
9,03
9,08
9,6
9,18
9,5
8,89
9,21
3
PKS
6,61
6,59
6,7
7,03
6,63
6,93
6,75
4
PDIP
19,68
18,95
18,8
19,24
18,54
18,90
19,02
5
Golkar
14,63
14,95
14,4
14,87
14,83
14,65
14,72
6
Gerindra
11,88
11,98
12
11,74
11,47
12,26
11,89
7
Demokrat
9,72
10,04
9,3
9,5
10,23
9,88
9,78
8
PAN
7,45
7,66
7,5
7,46
7,63
7,34
7,51
9
PPP
7,00
6,30
6,8
6,75
6,44
6,41
6,62
10
Hanura
5,22
5,16
5,4
5,13
5,43
5,36
5,28
11
PBB
1,39
1,42
1,6
1,45
1,6
1,54
1,50
12
PKPI
0,99
0,99
1
0,95
0,96
0,94
0,97


Perubahan Peta Politik

Hasil hitung cepat diatas telah membongkar ulang peta politik nasional untuk Pemilu Legislatif 2014, yang sebelumnya berdasarkan survei sepanjang 2013 hingga menjelang hari pemungutan suara pemilu legislatif, PDI-P dan Partai Golkar akan mendominasi.
 
Perubahan peta politik terjadi setelah perolehan suara Partai Demokrat menurun, namun berdasar hitung cepat tak seburuk yang diperkirakan. Kemudian, suara partai-partai berbasis massa Islam berhasil menjungkirbalikan beberapa survey, yang sebelumnya diduga akan ‘punah’ pada Pileg 2014. Secara mengejutkan suara Partai berbasis massa Islam naik signifikan dengan raihan  rata-rata di atas 6 persen selain Partai Bulan Bintang. 

Sebaliknya PDI-P yang digadang-gadang akan meraih 27–30 persen suara setelah mencapreskan Jokowi, ternyata perolehan suaranya tidak tembus 20 persen. Meleset jauh dari ekpektasi lembaga survei.

Hasil Pileg ini tentunya akan merubah konstelasi politik menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) mendatang. Pilpres tidak lagi miliknya PDI-P dan Partai Golkar sebagai lokomotif utama. Tapi akan memunculkan "poros ketiga"  dan “poros keempat” sebagai pengusung calon presiden (Capres) dan wakil presiden (Cawapres). Diperkirakan terbuka peluang empat pasangan Capres dan Cawapres dalam Pemilu Presiden 2014 yakni :
  • Poros Mega Surya yakni Koalisi antar PDI-P dengan Partai Nasdem yang akan mengusung Jokowi sebagai Presiden.
  • Poros Golkar yang akan berkoalisi dengan Partai Demokrat dan Partai Hanura yang akan mengusung Aburizal Bakri (ARB) sebagai Presiden.
  • Poros Garuda yakni Koalisi antara Partai Gerindra dengan Demokrat dan PPP atau Hanura yang akan mengusung Prabowo sebagai Presiden
  • Poros Partai berbasis masa Islam yakni Koalisi antara PKS, PKB, PPP, PAN dan PBB yang akan mengusung Jusuf Kalla atau Mahfud MD sebagai Presiden

Poros Mega Surya

Hari ini, Sabtu (12/4), ramai diberitakan media online tentang pertemuan Capres PDI-P, Jokowi dengan Ketua Umum Partai Nasdem di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Nasdem di Gondangdia. Ditemani Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo, Jokowi menggelar pertemuan tertutup dengan Surya Paloh dan Sekjen NasDem Patrice Rio Capella.

Pertemuan yang berlangsung selama sekitar satu jam itu menghasilkan kesepakatan bahwa Partai Nasdem menerima ajakan PDI-P untuk berkoalisi.


"Saya berikan secara resmi dukungan dengan penuh riang dan gembira, capres PDIP dan NasDem sama, yaitu Joko Widodo," kata Surya kepada wartawan di kantor DPP NasDem, Mengutip detik.com, Sabtu malam.


Berdasarkan hasil quick count versi enam lembaga survey, PDIP memperoleh suara rata-rata 19,2 persen  dan Nasdem 6,67 persen. Jika dijumlah, hasilnya adalah 25,87 persen. Jadi, Jumlah perolehan suara gabungan PDI-P dan Nasdem sudah menembus ambang batas pencapresan sebesar 25% suara nasional.

Poros Golkar

Aburizal Bakri (ARB) sebagai Capres dari Partai Golkar sudah lama punya hubungan baik dengan Presiden SBY. Diperkirakan Partai Demokrat akan merapat ke Partai Golkar dan menyandingkan salahsatu Capres hasil konvensi Partai Demokrat sebagai Wapres untuk mendampingi ARB. Berdasarkan hasil quick count versi enam lembaga survey, Partai Golkar memperoleh suara rata-rata 15 persen  dan Demokrat 10 persen. Jika dijumlah, hasilnya adalah 25 persen. Jumlah perolehan suara gabungan Golkar dan Demokrat sudah menembus ambang batas pencapresan sebesar 25% suara nasional. Tidak menutup kemungkinan ARB akan mengajak Wiranto dari Hanura berkoalisi dengan Poros Golkar terkait kedekatan ideologis.

Poros Garuda

Di poros Garuda, Gerindra akan menjadi pemimpin koalisi. Partai-partai yang berpotensi bergabung di poros ini adalah PPP, Partai Demokrat atau Partai Hanura. PPPmelalui pimpinannya Suryadharma Ali  sudah memberikan lampu hijau merapat ke Gerindra saat menghadiri kampanye Akbar Partai Gerindra di Stadion Gelora Bung Karno. 

Sedangkan dengan Partai Demokrat, Prabowo pernah dipanggil khusus ke Istana oleh Presiden SBY pada 11 Maret 2013. Mengenai pertemuanya dengan Prabowo, muncul spekulasi bahwa Presiden SBY memberikan ‘"Endorsement" awal kepada Prabowo untuk menajadi suksesor Presiden SBY di tahun 2014. 

Berdasarkan Quick Count enam versi hitung cepat, Partai Gerindra mendapat suara rata-rata 12 persen, Demokrat 10 persen, PPP 6,6 persen. Gabungan suara Partai Gerindra, Demokrat dan PPP sebesar 28, 6 persen. Tidak menutup kemungkinan Partai berbasis masa Islam lainnya (PKS, PAN dan PKB) merapat ke Poros Garuda.

Mengutip pernyataan anggota Dewan Syuro PKS yang dilansir Tribunnews, Sabtu (12/04), PKS mulai mewacanakan pembentukan koalisi partai Islam. Koalisi partai Islam ini dianggap bisa menjadi posisi tawar yang cukup kuat untuk diajukan kepada partai berhaluan nasionalis, seperti Partai Gerindra.

Pernyataan anggota dewan syuro PKS tersebut dikuatkan dengan pernyaan Wakil Ketua Partai Gerindra Fadli Zon yang dilansir detik.com Sabtu (12/04) malam, yang menyatakan Gerindra dalam memuluskan pencapresan Prabowo akan membuat koalisi tenda besar. 

"Kita akan membuat koalisi tenda besar dengan sejumlah parpol yang kita terus jajaki, seperti PKB, Partai Demokrat, PAN, PKS dan PPP," ujar Fadli di Kantor DPP Gerindra (detik.com).


Poros Partai Berbasis Massa Islam

Berdasarkan hasil sementara Quick Count 6  Lembagaperolehan suara partai-partai Islam naik siginifikan jika dibandingkan dengan hasil perolehan suara pada pemilu 2009.

Pada tahun 2009, perolehan suara partai-partai Islam hanya sebesar 25,94 persen dengan rincian : Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 7,88 persen, Partai Amanat Nasional (PAN) 6,01 persen, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 5,32 persen, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 4,94 persen, dan Partai Bulan Bintang (PBB) 1,79 persen.

Sedangkan gabungan suara partai Islam pada Pemilu kemarin berdasarkan hasil Quick Count 6 lembaga survei mencapai 31,59 persen.  Dengan raihan suara diatas 25 persen Partai-partai Islam bisa mengusung Capres dan Cawapres sendiri sebagai poros alternatif. Capres dan Cawapres potensial yang bisa diajukan oleh poros partai berbasis massa Islam adalah Jusuf Kalla, Mahfud MD, Hatta Rajasa, Ahmad Heryawan, Anis Matta, Hidayat Nur Wahid dan Rhoma Irama.

Naiknya suara partai Islam pada pemilu 2014 berimplikasi naiknya daya tawar partai-partai berbasis massa Islam (PKS, PPP, PAN dan PKB). Saat ini Partai Islam bak ‘Gadis Cantik’ yang diperebutkan oleh semua partai nasionalis untuk dipinang dalam koalisi. 

Pertandingan Tiga Babak

Dengan empat peta koalisi, diperkirakan Pipres akan dilaksakan dua putaran. Secara keseluruhan, tahapan pemilihan Presiden harus melewati tiga babak. Pileg  diasumsikan babak pertama, dengan hasil ‘remis’ atau ‘draw’. Kemudian di babak kedua adalah Pilpres putaran pertama yang akan menjaring dua pasangan Capres-Cawapres untuk maju ke putaran dua, karena belum ada pemenang dibabak kedua. Ibarat permainan sepakbola harus ada babak tambahan, yakni Pilpres putaran dua.

Siapakah menurut anda pemenang “pertandingan” Pilpres di babak kedua?  Selamat bertanding dengan sportif untuk semua Capres dan Cawapres.


Muhammad Ridwan
Citizen Reporter di www.mediawarga.info

Hasil Akhir 'Quick Count' Pemilu 2014


Pemilihan legislatif (Pileg) 2014 telah di gelar pada Rabu, 09 April 2014, berjalan dengan aman dan suskes. Hasil akhir Pileg versi enam hitung cepat atau quick count telah menempatkan tiga partai berada di papan atas yakni PDI-P dengan raihan suara rata-rata 19,02 persen, Partai Golkar dengan raihan suara rata-rata 14,72 persen dan  Partai Gerindra dengan raihan suara rata-rata 11,89 persen.

Selanjutnya Partai yang berada di papan tengah adalah Partai Demokrat dengan raihan suara 9,78 persen, kemudian Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan raihan sekitar 9,21 persen dan Partai Amanat Nasional (PAN) dengan raihan sekitar 7,51 persen.

Kemudian di papan bawah bertengger Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dengan raihan rata-rata 6,75 persen, Partai Nasdem dengan 6,67 persen, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan raihan 6,62 persen dan terakhir Partai Hanura dengan raihan 5,28 persen suara.

Menurut quick count  ada dua partai yang tidal lolos ke senayan karena raihan suaranya di bawah Parlaimentary Threshold (PT) atau ambang batas parlemen 3,5 persen yakni Partai Bulan Bintang (PBB) dengan raihan suara 1,5 persen dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) yang hanya memperoleh 0,97 persen suara.

Berikut rekapitulasi hasil akhir quick count menurut enam versi lembaga survey :


No
Partai
LSI
(%)
SMRC
(%)
CSIS
(%)
 Kompas
(%)
RRI
(%)
MetroTV
(%)
Rata-rata (%)
1
Nasdem
6,41
6,57
6,7
6,7
6,74
6,91
6,67
2
PKB
9,03
9,08
9,6
9,18
9,5
8,89
9,21
3
PKS
6,61
6,59
6,7
7,03
6,63
6,93
6,75
4
PDIP
19,68
18,95
18,8
19,24
18,54
18,90
19,02
5
Golkar
14,63
14,95
14,4
14,87
14,83
14,65
14,72
6
Gerindra
11,88
11,98
12
11,74
11,47
12,26
11,89
7
Demokrat
9,72
10,04
9,3
9,5
10,23
9,88
9,78
8
PAN
7,45
7,66
7,5
7,46
7,63
7,34
7,51
9
PPP
7,00
6,30
6,8
6,75
6,44
6,41
6,62
10
Hanura
5,22
5,16
5,4
5,13
5,43
5,36
5,28
11
PBB
1,39
1,42
1,6
1,45
1,6
1,54
1,50
12
PKPI
0,99
0,99
1
0,95
0,96
0,94
0,97


Berdasarkan hasil diatas, maka tidak ada satupun Partai politik menjadi pemenang. Maka semua partai harus berkoalisi untuk maju dalam pemilihan presiden yang akan digelar 9 Juli 2014.